
setiap tegukan, terasa pulang

Tidak semua hal datang dengan niat untuk tinggal. Ada yang hanya lewat, ada yang sekadar singgah. Namun ada pula yang hadir sederhana, tanpa janji, tanpa suara, lalu perlahan menjadi akrab.Tegukan pertama selalu jujur. Ia tidak berusaha memikat, hanya mengenalkan rasa apa adanya. Pahitnya, hangatnya, dan sisa yang tertinggal menemukan tempatnya sendiri.Seperti pertemuan yang tidak direncanakan, kopi ini hadir sebagai awal bukan untuk tergesa, melainkan untuk dikenang pelan-pelan.Karena beberapa hal tidak perlu ramai untuk menetap.

Di tengah perjalanan, tidak semua hal perlu dijelaskan. Ada fase ketika kata-kata menjadi berlebih, dan diam justru terasa cukup.Jeda ini tidak kosong. Ia dipenuhi kehadiran dan rasa yang saling memahami tanpa harus diminta.Kopi ini menemani senyap itu bukan untuk mengisi, melainkan menjaga agar tetap tenang.

Pulang tidak selalu tentang akhir. Ada yang memilih kembali perlahan, memberi waktu pada rasa untuk mengenali tempatnya.Bukan tentang cepat sampai, melainkan tentang ketenangan saat akhirnya berhenti.Kopi ini menutup perjalanan dengan hangat yang tinggal lebih lama,
seperti rasa yang akhirnya menemukan pulang.